Kaya Karena Sedehana……!?!?? Semoga Aku Bisa…..

If we look at what we have in life, we’ll always have more.
If we look at what we don’t have in life, we’ll never have enough.

Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMU, kemudian menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri : akankah saya bisa sampai di sana? Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaan perusahaannya bernilai triliunan rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi bayangan dulu.

Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan untuk menjadi kaya.

Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.

Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis : ‘If we have too many things we don’t truly need or want, our live become overly complicated’. Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.

Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain juga serupa. Lebih dari sekadar takut, di tingkatan materi yang amat berlebihan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi.

Benang merahnya, kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan (kendati hanya sesaat), namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis oleh kekayaan materi.

Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia untuk memproduksi harapan yang lebih tinggi.

Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus keikhlasan untuk bersyukur pada sang hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi, harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.
Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi.
Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana? Entah benar entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat.

Ketika ada perusahaan yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada di sana . Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis dengan bahasa-bahasa hati. Dikala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin Dranath Tagore dalam The Heart of God : ‘let this be my last word, that I trust in Your Love’. Keyakinan dan keikhlasan di depan

Tuhan, mungkin itu yang menjadi kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.

Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan dan hanya keikhlasan.

Tidak hanya dalam doa, dalam keseharian hidup juga demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian kita bisa kaya dengan jalan sederhana.

Orang yang berjiwa besar bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang lebih besar daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Add comment Juli 14, 2009 andhien84

Tentang Sebuah Arti

Hidup adalah suatu yang patut diperjuangkan. Hidup ini hanya sekali & aku hrs rela dengan apa yg terjadi. Aku tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan.. Aku harus sewajarnya dalam menjalani hidup ini. Jika dalam hidup ini aku menginginkan sesuatu, maka hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanku, karena mungkin ini yang terbaik bagiku. Semua yang terjadi biarlah terjadi & anggaplah sebagai episode hidup yang harus kujalani.. Hatiku harus siap menerima kenyataan yang ada, aku tidak boleh mempersulit diri karena hidup ini bagai siang dan malam silih berganti kadang susah kadang senang. Tapi semua pasti ada akhirnya.. Yang sudah terjadi tak perlu ditangisi, disesali. Yang harus dilakukan adalah menghadapi semuanya dengan lapang dada, karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku tidak boleh menyerah & aku tidak boleh kalah. Semua kejadian merupakan cermin pribadiku, aku tidak boleh gentar dengan apa yang terjadi. Yang terpenting aku dapat memahami diriku yang sebenarnya & memperbaiki kesalahan yang ada, dan jangan pernah aku merasa tersaing karena yang menilai adalah Tuhanku. Yang harus dilakukan adalah menyempurnakan niat & ikhtiar. Perkara apapun kuserahkan pada Tuhan apa yg terbaik bagiku. Bahkan disaat asa ada sebuah kekuatan yg membuat kita kembali untuk meneruskan perjalanan hidup & berusaha menjadi hidup kembali. Tiap orang mempunyai kekuatan itu, tp itu semua tergantung diri kita sendiri..

1 comment Maret 20, 2009 andhien84

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

2 comments Februari 12, 2008 andhien84

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts